ENG / IND 07 September 2010

KALENDER ACARA

M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30    

 

LACAK

 

EDARAN

Berlangganan!

Jadilah yang pertama tahu perkembangan.

 

MITRA KAMI

 

 

 

Kalam, Edisi 22

Sastra Bandingan



Manneke Budiman: Tentang Sastra Bandingan
Nirwan Dewanto: Pembacaan Dekat atau Jauh?
         Melintasi Sastra dan Seni Rupa
Lisabona Rahman: Tragedi Buah Apel
         Seks dalam Karya Ayu Utami dan Erica Jong
Ari J. Adipurwawidjana, Lien Amalia, Lestari Manggong:
         Ambivalensi Naratif dan Transisi Sosial
         Lady Chatterley’s Lover dan The Satanic Verses
Intan Paramaditha: Gender dan “Asia”
         Shanghai Baby dan Andrew and Joey
Mikihiro Moriyama: Dari Manuskrip ke Cetakan
         Sastra Sunda Paruh Kedua Abad ke-19
Michael Rinaldo: Rilke dan Chairil
         Etos Kerja, Terjemah, Silang Tema
Aquarini Priyatna Prabasmoro: Seks, Birahi, dan Cinta
         Tiga Karya Nh. Dini
Melani Budianta: Tiga Wajah Julius Caesar
         Gender dan Politik dalam Terjemahan
A. Zaim Rofiqi: Cerita-Cerita yang Mengembara

OBITUARI: S. Prinka (1947-2004)



MANNEKE BUDIMAN

TENTANG SASTRA BANDINGAN

TAHUN 1993, Susan Bassnett, seorang komparatis terkemuka, melontarkan pernyataan yang menantang soal sastra bandingan. Ia memaklumkan “mati”-nya sastra bandingan dengan mengatakan: “Today, comparative literature in one sense is dead”.  Bassnett tidak bermaksud mengundang perbantahan karena apa yang ia lontarkan itu ada benarnya, terutama jika yang dimaksud adalah praktik tradisional dalam membandingkan sastra yang cenderung Erosentris, khususnya di “pusat-pusat” disiplin sastra bandingan, seperti Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat.


NIRWAN DEWANTO
PEMBACAAN DEKAT ATAU JAUH?
Melintasi Sastra dan Seni Rupa

BERTOLAK dari pengalaman sendiri, saya dapat mengatakan bahwa pembacaan dekat adalah sebuah keniscayaan bagi penulis maupun penelaah. Membaca sastra secara dekat adalah memisahkan ia dari riwayat pengarangnya, dari ranah yang melahirkannya, dari segenap kuasa yang melembagakannya. Hanya dengan pembacaan dekat kita dapat mengenali sebuah puisi atau sebuah novel sebagai pengetahuan sekaligus sumber penciptaan baru, dan bukan sebagai barang. Namun, tulisan ini bukanlah hendak mengukuhkan pengalaman itu, melainkan meragukannya. Maka, barangkali sebentar lagi, kita menyatakan betapa tak cukupnya pembacaan dekat.


LISABONA RAHMAN
TRAGEDI BUAH APEL
Seks dalam Karya Ayu Utami dan Erica Jong

ADA dua hal yang akan saya bahas dalam tulisan ini: bagaimana penulis menampilkan hubungan heteroseksual dan bagaimana perempuan mengenal (atau diperkenalkan kepada) tubuhnya. Dalam tulisan ini saya memilih satu karya, Saman (terbit 1998), dan membandingkannya dengan karya penulis Amerika Serikat Erica Jong, Fear of Flying (terbit 1973). Kedua karya ini saya pilih bukan karena pertimbangan mutu yang jauh lebih baik daripada karya-karya perempuan lain yang mengangkat masalah seks dan seksualitas, akan tetapi lebih karena kemiripan kondisi dan tanggapan yang bermunculan saat kedua karya tersebut diterbitkan.


ARI JOGAISWARA ADIPURWAWIDJANA, LIEN AMALIAN, LESTARI MANGGONG
AMBIVALENSI NARATIF DAN TRANSISI SOSIAL
Lady Chatterley’s Lover dan The Satanic Verses

KAJIAN ini—yang berfokus pada dua karya, yaitu Lady Chatterley’s Lover (selanjutnya ditulis LCL) karya D. H. Lawrence dan The Satanic Verses (selanjutnya ditulis TSV) karya Salman Rushdie—hendak melihat betapa struktur sebuah teks naratif terkait dengan wacana ekonomi politik yang melingkunginya. Asumsi awal yang diperkuat dengan simpulan sementara kami adalah bahwa: (1) kedua karya ini menyajikan dilema manusia yang terjepit dalam peralihan dari dominasi suatu wacana lama ke kebangkitan suatu wacana baru; (2) transisi diskursif ini mengundang kontroversi, dalam arti ada beragam reaksi yang saling berlawanan dalam menanggapi kehadiran kedua karya ini di tengah masyarakat; dan (3) struktur naratif kedua karya ini menciptakan beraneka ruang senjang yang melahirkan suara ambivalen dalam hal keberpihakan serta ambigu dalam hal makna.


INTAN PARAMADITHA
GENDER DAN “ASIA”
Shanghai Baby dan Andrew and Joey

ERA modern menyaksikan kemajuan teknologi yang menciptakan budaya global dan meruntuhkan batas-batas negara. Batasan antara Barat dan Timur pun mengabur. Kini wajah kota-kota besar di Timur tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar di Barat baik dari segi fisik maupun nilai-nilai. Dalam Shanghai Baby karya Wei Hun, kita melihat wajah Shanghai sebagai kota kosmopolitan tempat nilai-nilai Barat dan Timur bertumpang tindih. Sementara itu, Bali, seperti yang digambarkan oleh Jamie James dalam Andrew and Joey, merupakan tempat yang tidak saja eksotis, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai yang lebih longgar, termasuk terhadap fenomena homoseksual. Kaburnya garis batas antara Barat dan Timur mengakibatkan hubungan-hubungan antara kedua kutub ini menjadi lebih kompleks. Dengan latar belakang abad ke-21 yang serba modern dan global, saya mencoba melihat hubungan-hubungan Timur dan Barat yang diangkat dalam kedua novel itu, serta mengungkapkan bagaimana gender memaknai hubungan kekuasaan di antara keduanya.


MIKIHIRO MORIYAMA
DARI MANUSKRIP KE CETAKAN
Sastra Sunda Paruh Kedua Abad Ke-19

TULISAN menyusun kembali kesadaran, demikian diktum terkenal Walter J. Ong yang diringkaskan dari teorinya tentang efek kelisanan, keberaksaraan kirografik, dan keberaksaraan cetak. Kesadaran manusia mengalami transformasi ketika kelisanan diambil alih oleh keberaksaraan. Hal yang sama juga dapat dikatakan ketika cetakan menggantikan tulisan tangan: cetakan memperkuat efek-efek tulisan atas pikiran dan perasaan manusia.


MICHAEL RINALDO
RILKE DAN CHAIRIL
Etos Kerja, Terjemah, Silang Tema

TULISAN ini akan membahas tiga titik perbandingan antara Chairil Anwar dan Rainer Maria Rilke. Yang pertama adalah mengenai metode kerja atau penulisan Chairil, yang saya yakini mendapat pengaruh cukup penting dari Rilke jika kita melihat terjemahan beberapa surat Rilke oleh Chairil. Titik perbandingan kedua adalah penerjemahan karya Rilke oleh Chairil yang lebih jauh menunjukkan kreativitas dan kemampuan penerjemahan penyair (berbahasa) Indonesia ini. Titik perbandingan ketiga, dan bagian utama artikel ini, adalah persilangan tematis antara Rilke dan Chairil, mengingat dalam puisi mereka dapat ditemukan beberapa ambivalensi mengenai otonomi seni dalam era modern.


AQUARINI PRIYATNA PRABASMORO
SEKS, BIRAHI, DAN CINTA
Tiga Karya Nh. Dini

JIKA beberapa karya penulis perempuan yang tergolong berpandangan feminis seringkali digugat sebagai “sastra seksual” belakangan ini, Nh. Dini telah melakukan perlawanan terhadap konstruksi seksualitas perempuan sejak tahun 1970-an. Nh. Dini jeli menangkap perbedaan budaya, adat dan kebiasaan, serta cara pandang yang bersama-sama membangun perlawanan terhadap apa yang diterima sebagai kelaziman, terutama mengenai identitas perempuan, termasuk seksualitasnya. Perspektif Timur yang seringkali diambilnya bukan semata-mata penerimaan Timur sebagai Liyan (the Other) dalam pertentangan Timur-Barat. Nh. Dini bersikap kritis terhadap Barat sebagaimana ia bersikap kritis terhadap Timur.


MELANI BUDIANTA
TIGA WAJAH JULIUS CAESAR
Gender dan Politik dalam Terjemahan

JULIUS Caesar adalah salah satu lakon Shakespeare yang paling dikenal di Indonesia, dan telah berulang kali diterjemahkan serta dipentaskan. Terjemahan Indonesia paling awal digarap oleh Muhamad Yamin di tahun 1951. Lakon itu diterjemahkan kembali dua dasawarsa kemudian, pada 1976, oleh Asrul Sani. Pada 1985, diilhami keadaan, Ikranegara menulis kembali Julius Caesar dari sudut pandang berbeda. Jika dapat kita setujui anggapan bahwa teks aslinya sendiri merupakan suatu medan perang ideologi penuh kontradiksi internal, maka kita dapat melihat ketiga terjemahan bukan hanya sebagai penafsiran atas sebuah teks yang bersifat terbuka, tetapi juga sebagai ajang yang menghadirkan meda perang itu dalam bahasa dan konteks yang baru dan berbeda-beda.


A. ZAIM ROFIQI
CERITA-CERITA YANG MENGEMBARA

MUNCUL pada akhir 1960-an dari seorang linguis Prancis kelahiran Bulgaria, Julia Kristeva, istilah intertekstualitas segera mengusik dunia pemikiran sastra, linguistik, dan budaya pada umumnya. Konsep baru ini seakan membalikkan permahaman tradisional yang kukuh dipegang oleh hampir semua pemikir kebudayaan: bahwa dalam membaca sebuah teks—khususnya teks sastra—yang pertama-tama dituju adalah suatu makna: bahwa sebuah teks mengandung suatu makna yang utuh, padu, dan berdiri sendiri.


OBITUARI
S. Prinka
(1947-2004)

BERSAMA S. Prinka, kami membangun Kalam. Anda tahu, Kalam bermula sebagai suplemen kebudayaan empat-bulanan pada majalah Tempo. Ketika suplemen itu berumur kurang lebih tiga tahun, para penggarapnya merasa perlu memperluasnya. Pada hemat kami, pada masa itu di Tanah Air tak ada jurnal—atau apa pun namanya—yang mampu menampung sekaligus merangsang penulisan di bidang kebudayaan secara luas sekaligus tajam. Kami mencita-citakan sebuah medium di mana kalangan intelektual, peneliti, seniman, dan sastrawan bisa saling bergesekan. Maka suplemen itu pun menjadi jurnal kebudayaan Kalam—terbit pertama kali pada Februari 1994.


Kirim Ke Teman Komentar

© 2005 Utan Kayu. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Desain dan pengembangan oleh Matamata.com

 

Free Hit Counters
Free Hit Counters